Minggu, 20 Mei 2012

LYLA - AKHIR CERITA

Sayang sudahlah berakhir semua
Cerita kita yang dulu indah terasa
Jangan kau teteskan air mata
Mungkin inilah jalan untuk kita berdua

Sudah tak perlu engkau sesali
Semua ini tak akan berubah

Reff:

Kenanglah aku kapanpun engkau mau

Simpan diriku bila masih di hatimu
Andaikan nanti cinta datang kembali
Akan ku sanjung engkau di dalam hatiku

Luka ini memang perih
Tapi kita pernah mencobanya
Ooh biarkan saja cerita ini
Mendewasakan kau dan aku

(kenanglah aku kapanpun engkau mau)

Repeat reff

(Kenanglah aku kapanpun engkau mau
Simpan diriku bila masih di hatimu
Andaikan nanti cinta datang kembali
Akan ku sanjung engkau di dalam hatiku)

Minggu, 08 April 2012

kerispatih - MENGENANGMU !!

Takkan pernah habis air mataku
Bila ku ingat tentang dirimu
Mungkin hanya kau yang tahu
Mengapa sampai saat ini ku masih sendiri

Adakah disana kau rindu padaku
Meski kita kini ada di dunia berbeda
Bila masih mungkin waktu berputar
Kan kutunggu dirimu …

Reff:
Biarlah ku simpan sampai nanti aku kan ada di sana
Tenanglah diriku dalam kedamaian
Ingatlah cintaku kau tak terlihat lagi
Namun cintamu abadi …

CALVIN JEREMY - MAAF

Berat ku rasa hari ini
Masih terdengar di telingaku semua kata
Tersadar ku tlah sakiti hatimu
Meski bukan maksudku tuk lukai perasaan
*
Reff:
Kasih maafkanlah aku dan jangan kau membisu
Karna kesalahanku, keegoanku
Berikanku kesempatan tuk perbaiki semua
Karna ku hanya ingin membuatmu bahagia


Ku rindukan tawa dan candamu saat ini
Yang biasa mengisi hariku, warnai hidupku
Ku perlukan cintamu, hadirmu di sini
Ku mohon kembalilah padaku seperti dulu

Repeat reff [3x]

JUDIKA - AKU YG TERSAKITI

Pernahkah kau merasa jarak antara kita
Kini semakin terasa setelah kau kenal dia
Aku tiada percaya teganya kau putuskan
Indahnya cinta kita yang tak ingin ku akhiri
Kau pergi tinggalkanku

Tak pernahkah kau sadari akulah yang kau sakiti
Engkau pergi dengan janjimu yang telah kau ingkari
Oh tuhan tolonglah aku hapuskan rasa cintaku
Aku pun ingin bahagia walau tak bersama dia
Memang takkan mudah bagiku tuk lupakan segalanya
Aku pergi untuk dia

Tak pernahkah kau sadari akulah yang kau sakiti
Engkau pergi dengan janjimu yang telah kau ingkari
Oh tuhan tolonglah aku hapuskan rasa cintaku
Aku pun ingin bahagia walau tak bersama dia
(walau tak bersama dia)

Oh tuhan tolonglah aku hapuskan rasa cintaku
Aku pun ingin bahagia walau tak bersama dia

Sabtu, 07 April 2012

GORESAN HATI

awalnya tak pernah terpikir olehku
tuk menjalani sebuah cinta dengannya
semua begitu indah
dia memberi awal yang begitu indah
hingga kumencoba
dan membuat dia sebagai sandaranku
semua kulalui dengan keceriaan
kau beri juta warna
hingga kumerasakan sebuah perasaan
yang gak pernah aku bayangkan
kau memberiku cinta
tapi disaat kenapa disaat
semua keindahan itu mulaiku rasakan
kau malah mengubahnya
menjadi sebuah kekecewaan belaka
kau beri tangis
setelah tawa yang kurasa
mungkinkah sikapku yang membuatmu
berubah kepadaku
aku tak mengerti dengan semua ini
ketika semua langkahku mengatakan
akulah orang terbahagia
tapi kenapa kau mengubahnya
akulah orang yang penuh luka
mungkin aku gak bisa
menjadi apa yang kau inginkan
kenang aku disaat kau buka matamu
jadikan aku sebagai orang
yang bisa untukmu
jangan kau jadikan aku bingkai hidupmu

Jumat, 16 Maret 2012

SEBUAH JAWABAN CINTA (-___-'')

Cerita ini bermula ketika seorang pemuda mulai mencari jati diri, mulai menginjak masa – masa yang berat karena semua masalah sudah mulai mendera hidupnya, terutama masalah Cinta. Kisah ini bermula ketika dia mulai kuliah dan bertemu dengan seorang wanita. Awalnya semua nya biasa-biasa saja tapi setelah beberapa lama berkenalan semuanya mulai berubah, hal-hal seperti rasa suka mulai mendera di dalam hati pemuda ini.

Awalnya dia hanya ingin menyimpan rasa cinta itu sendiri, tapi akhirnya karena sudah tak tertahan lagi, mulai lah dia bercerita kepada temannya bahwa dia menyukai seseorang wanita, sang teman hanya bisa memberikan solusi, dan akhirnya dia mengatakan agar rasa itu untuk di sampaikan.

Dengan rasa berani dan di dukung secara moral oleh temannya, akhirnya rasa itu di ungkapkan kepada sang wanita. Dia memilih momen di malam hari. Sungguh di luar pikiran nya akhirnya dia mengatakan pada malam itu. Dia sangat serius mengatakan nya dan di campur dengan rasa gugup tapi sang wanita menanggapi keseriusan itu dengan tertawa..

Malam itu mulai lah terjadi sebuah percakapan, semua rasa pun di curahkan oleh sang pemuda: “kamu udah punya cowok.?”, “hehe.. belum knapa.?”, “kamu tau gak kalau aku suka kamu”,”hah..? sejak kapan” ,”sudah lama sih, kamu mau gak jadi pacar aku”, “Aku belum bisa memutuskan iya atau tidak”, “kenapa” , “karena sekarang saya bingung kalau saya terima atau saya tolak” , “loh kok harus bingung, kan hanya jawab iya atau tidak..!!” , “Biar saja waktu yang menjawab semuanya”.

Dengan perasaan agak kecewa sang pemuda akhirnya menerima semua jawaban itu, setelah mengantarnya pulang sang pemuda berpamitan pulang kerumahnya dengan kepala tertunduk lesu. Akhirnya semua apa yang ditakutkannya slama ini akhirnya dirasakan juga.

Malam berlalu dan pagi pun datang, sang pemuda menceritakan semua nya kepada temannya, temannya hanya bisa mengatakan “Semua itu pasti ada proses nya usahakan aja dulu untuk mendapatkan jawabannya”. Kemudia pemuda tersebut kembali bersemangat. Setiap malam dia mulai berkomunikasi lewat sms dengan sang wanita, untuk melakukan pendekatan alias Pedekate.

Sebulan sudah semuanya sudah dilewatinya, menunggu kabar dari sang wanita. Tapi sang wanita juga tidak mau memberikan jawaban iya atau tidak. Tapi semuanya terjawab dengan miris, dengan hati luka dia mengetahui kalau sang wanita idaman sudah mempunyai pemuda impiannya. Menanggapi semua itu sang pemuda membuat sebuah surat, bukan surat cinta tapi surat patah hati:


==========================================================

Dear wanita idaman ku


Sebenarnya hati saya terluka mengetahui semuanya, tapi apalah daya mungkin seperti inilah kehendak tuhan, saya akan mulai melupakan rasa cinta ku slama ini. Saya sudah ikhlas menerima semua nya, saya akan slalu berdoa hal yang terbaik untuk kita berdua.

Mungkin tuhan hanya menjadikan engkau sebagai sebuah fase cinta yang hanya untuk saya lewati bukan untuk ku miliki. Biar lah saya simpan cerita cinta ini sendiri, untuk menjadi sebuah cerita cinta yang hanya akan diceritakan di suatu saat nanti.

Smoga kamu bahagia dengan cinta pemuda yang kau pilih.



Tertanda pemuda yang pernah memuja mu




Pemuda itu memberikan suratnya dengan perantara seorang temannya, setelah menerima surat itu, sang wanita hanya bisa meminta maaf atas semuanya, karena sudah menyakiti hati dari pemuda itu, dia menjelaskan semua alasan dia tak mau meberi jawaban. Dengan panjang lebar semuanya sudah di jelaskannya. dengan lapang dada sang pemuda menerima semua kenyataan cinta nya harus bertepuk sebelah tangan.



Setelah semua kejadian itu pemuda ini sangat banyak memetik pelajaran, tapi sempat terlintas dalam benak nya “Andai saja tak pernah saya ungkap semua rasa ini, mungkin semuanya tak akan seperti ini “ , Tapi ya sudalah semuanya sudah terjadi ambil saja poin positive nya aja. Dari pada saya pendam sendiri bisa-bisa jadi penyakit di hati.


Tanpa lupa berdo’a kepada sang khalik :

” Oh tuhan lah aku…

Hapuskan rasa cinta ku

Aku pun ingin bahagia

Walau tak bersama dia “


Dan sekarang pemuda tersebut mulai menata suasana hati nya, mulai melakukan hal yang lain, dan menganggap semua kejadian itu tak pernah di alaminya, karena dia gak mau memikirkan orang yang sudah membuat hatinya terluka… dia berfikir gak Cuma dia sendiri wanita yang hidup di Dunia ini.

Kamis, 15 Maret 2012

TIPS OKEY MENGHADAPI UN 2012

sekarang ini siapa sih yg tidak mau merasakannya ? momen penting ini kunci bagi siswa akhir tingkat pendidikan dasar ,mengah hingga atas .saat itulah hasil belajar di evaluasi dan saat itu lah perjuangan terakhir pun di pertaruhkan demi melanjutkan ke jenjang yg lebih tinggi . maka persiapkan mulai dari sekarang , tidak ada kata terlambat. beberapa tips memepersiapkan jelang UN ;
1. BERDOALAH KEPADA ALLOH & MEMOHON RESTU KEDUA ORANG TUA
  manusia hanya bisa merencanakan ,Tuhanlah yg menentukan .oleh karena itu berdoalah agar di beri kemudahan
2.HARUS RELA MENGERUK KANTONG LEBIH DALAM
uang merupakan kunci utama, karena dengan adanya uang kita bisa bimbel/les dimana saja yg kita inginkan.
3.BELAJAR LEBIH GIAT
menjelang UN kita harus belajar ekstra ketat ,hal ini mengingatkan materi l;ebih banyak.
4. PERBANYAK LATIHAN SOAL
berlatih mengerjakan soal akan terbiasa menghadapi soal
5. BELAJAR KELOMPOK
belajar kelompok bernanfaat untuk membahas mendiskusikan materi pelajaran yg di anggap sulit.
6. HINDARI BELEJAR KEBUT SEMALAM
jangan menggunakan sisitem kebut semalam yaitu belajar keras saat UN sudah dekat , harusnya mendekati UN badan dan pikiran harus rileks .
7. MENJAGA KESEHATAN
kita harusnya menjaga kesehatan sehingga pada saat UN dalam kondisi fit dan sehat.
8. HINDARI KEGIATAN YG BISA M,ENGGANGGU KONSENTRASI
 untuk sementara hindari dulu kegiatan kesenian /hoby yg bisa mengganggu konsentrasi belajar seperti play station , pacaran , internetan , dan nonton TV

cukup posting saya semoga bermanfaat bagi yg membaca :)

Kisah Cinta Sejati

Kisah Cinta Sejati

Namaku Linda dan aku memiliki sebuah kisah cinta yang memberikanku sebuah pengajaran tentangnya. Ini bukanlah sebuah kisah cinta hebat dan mengagumkan seperti dalam novel-novel romantis, tetapi tetap bagiku ia adalah kisah yang jauh lebih mengagumkan dari semua novela tersebut.
Ini adalah kisah cinta ayahku, Mohammed Huda Alhabsyi dan ibuku, Yasmine Ghauri. Mereka bertemu di sebuah majlis resepsi pernikahan dan kata ayahku dia jatuh cinta pada pandangan pertama ketika ibuku masuk ke dalam ruangan. Saat itu dia tahu, inilah wanita yang akan dikahwininya. Ia menjadi kenyataan dan mereka telah bernikah selama 40 tahun dengan tiga orang anak. Aku anak sulung, telah berkahwin dan memberikan mereka dua orang cucu. Ibu bapaku hidup bahagia dan selama bertahun-tahun telah menjadi ibu bapa yang sangat baik bagi kami, membimbing kami dengan penuh cinta kasih dan kebijaksanaan.
Aku teringat suatu hari ketika aku masih berusia belasan tahun. Beberapa jiran kami mengajak ibuku pergi ke pembukaan pasaraya yang menjual alat-alat keperluan rumah tangga. Mereka mengatakan hari pembukaan adalah waktu terbaik untuk berbelanja barang keperluan kerana barang sangat murah dengan kualiti yang berpatutan.
Tapi ibuku menolaknya kerana ayahku sebentar lagi akan pulang dari kerja. Kata ibuku,”Ibu tak akan pernah meninggalkan ayahmu sendirian”.
Perkara itu yang selalu ditegaskan oleh ibuku kepadaku. Apapun yang terjadi, sebagai seorang wanita, aku wajib bersikap baik terhadap suamiku dan selalu menemaninya dalam keadaan apapun, baik miskin, kaya, sihat mahupun sakit. Seorang wanita harus menjadi teman hidup suaminya. Banyak orang tertawa mendengar hal itu. Menurut mereka, itu hanyalah lafaz janji pernikahan, omongan kosong belaka. Tapi aku tetap mempercayai nasihat ibuku.
Sampai suatu hari, bertahun-tahun kemudian, kami sekeluarga mengalami berita duka. Setelah ulang tahun ibuku yang ke-59, ibuku terjatuh di kamar mandi dan menjadi lumpuh. Doktor mengatakan kalau saraf tulang belakang ibuku tidak berfungsi lagi, dia harus menghabiskan sisa hidupnya di pembaringan.
Ayahku, seorang lelaki yang masih sihat di usia tuanya. Tetapi dia tetap setia merawat ibuku, menyuapinya, bercerita segala hal dan membisikkan kata-kata cinta pada ibu. Ayahku tak pernah meninggalkannya. Selama bertahun-tahun, hampir setiap hari ayahku selalu menemaninya. Ayahku pernah mengilatkan kuku tangan ibuku, dan ketika ibuku bertanya ,”Untuk apa kau lakukan itu? Aku sudah sangat tua dan hodoh sekali”.
Ayahku menjawab, “Aku ingin kau tetap merasa cantik”.
Begitulah pekerjaan ayahku sehari-hari, merawat ibuku dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
Suatu hari ibu berkata padaku sambil tersenyum,”Kau tahu, Linda. Ayahmu tak akan pernah meninggalkan aku…kau tahu kenapa?”
Aku menggeleng, dan ibuku berkata, “Kerana aku tak pernah meninggalkannya…”
Itulah kisah cinta ayahku, Mohammed Huda Alhabsyi dan Ibuku, Yasmine Ghauri, mereka memberikan kami anak-anaknya pelajaran tentang tanggungjawab, kesetiaan, rasa hormat, saling menghargai, kebersamaan, dan cinta kasih. Bukan dengan kata-kata, tapi mereka memberikan contoh dari kehidupannya.

Selasa, 13 Maret 2012

LAVINA - PILIHAN HATIKU

Berdiriku disini hanya untukmu
Dan yakinkan ku untuk memilihmu
[*]
Dalam hati kecil ku inginkan kamu
Berharap untuk dapat bersamamu
[**]
Aku ‘kan ada untuk dirimu
Dan bertahan untukmu
[***]
Terlukis indah raut wajahmu dalam benakku
Berikan ku cinta terindah yang hanya untukku
Tertulis indah puisi cinta dalam hatiku
Dan aku yakin kau memanglah pilihan hatiku
Back to [*][**]
Back to [***] 2x
Terlukis indah raut wajahmu dalam benakku
Berikan ku cinta terindah yang hanya untukku
Tertulis puisi cinta dalam hatiku
Dan aku yakin kau memanglah pilihan hatiku

Jumat, 02 Maret 2012

RASA YANG TERPENDAM :)


Cerpen Tahun Baru 2012 : Rasa Yang Terpendam
Kreek … ku buka pintu kelas. Ya , lagi-lagi aku orang pertama yang datang dan masuk ke kelas . ku lihat koridor hanya ada beberapa orang yang lalu lalang disana , sementara jam sudah menunjukkan pukul 07.15 .

“ah , sunyi sekali sekolah ini” batinku dalam hati.

Tak lama kemudian teman-teman sekelas ku mulai berdatangan . saat aku melihat ke pintu , orang yang selama ini berperan penting dalam hidup aku sudah datang . jelaas , dia sahabat aku .melihatnya datang dengan spontanpun aku melontarkan senyum padanya .

“aku mau ceritaaaa” teriakku dengan semangat padanya

“iya , ceritalah” dengan senangpun dia langsung duduku disampingku.

Ya , selama 2 tahun kami selalu berbagi cerita .tanpa kata bosan setiap pagi kami selalu berdua berbagi cerita .

“tadi malam aku BBM sama dany ky . dia janji katanya liburan kesini” cerita dengan senang .

“iya ? baguslah .tapi jangan terlalu berharap” sarannya yang sedikit kurang percaya dengan ceritaku

Dany , mantan aku yang jauuh disana . ya , dekatlah dengan kampong sahabat aku ni .haha.terkadang ada kata cemburu yang dia ucapkan saat aku selalu bercerita tentang dany . menurut aku sih wajar laah ya cemburu sama sahabat .

Saat istirahat aku melihat dia sedang sama putri . ngeliatnya aja aku udah panas . ya ampuun , nyebelin bange tuh anak .

“ko dekat-dekat dengan dia , aku cemburu !” ucapku kesal

“haha , kan cuma kawan.ciee , cembur wak yuni” jawabnya dengan penuh candaan.

Kata cemburu antara kami itu udah sering dan biasa . selagi hanya cemburu dengan sahabat gapapa dong ya .

“ky ,… dany” ucapku sedih

“kenapa?” tanyanya dengan serius

“dia balikan dengan mantannya , terus dia bilang gak janji mau kesini” ceritaku dengan sangaat kecewa

“haha , kan udah aku bilang jangan berharap , yang jauh tu jangan diharapin .yang dekat kan masih banyak” jawabnya

“tapii kan dia udah janji , harus tepatin dong” ucapku sedikit emosi

“itulah janji cowok gak ada yang bener .haha , desember kelabu” ucapnya yang sedikit meledekku .

“alaaah , ko juga nanti ngerasain februari kelabu .huuu” kembali ku meledek tentang mantannya

“ah , ko ni” ucapnya sedikit kesel .

Selama 2 tahun ini , kami tak pernah kelai , kami selalu berbagi cerita , tertawa , bercanda , menangis , belajar , nyontek , kerjasama , curang dalam hal nilai bersama-sama .

Dan saat kami kelas 3 , kami satu kelas lagi . Allah memang baik ya , gak mau pisahin kami .haha.

Tapii hal yang aku benci akhir-akhir ini adalah sifatnya yang jauh berbeda dengan dia yang dulu ku kenal .jadi sering ngambek tanpa sebab , sensitive , dan suka ngebentak .

Aku paliing benci di bentak , apalagi kalu balas sms dengan tanda seru . pernah waktu itu disekolah dia bentak aku , aku spontan nangis depan dia .

Waktu lagi pelajaran b.indonesia , aku ngoreksi LKS dia , dia ngoreksi LKS aku . kami selalu bertukar dari duluu .saat ngoresi tiba-tiba dia ngomong.

“aku sebenarnya gak mau negur ko” ucapnya dari jauh dengan muka yang menyeramkan

“kenapa?” tanyaku sedikit bingung .

“perasaan aku gak ada bikin salah” batinku dalam hati

“pokonya aku malas.” Jawabnya singkat .

Kepal aku serasa lagi di panggang , panaas kali rasanya , mungkin udah keluar tanduk waktu itu .

3 haripun kami lalui dengan diam-diaman seperti tidak kenal . tapi selama jam pelajaran , dia selalu melihat kearah aku , tapi pas aku liat balik dia malah malingkan muka .iih . nyebeliin banget.

Selama ngambekan itu aku deket sama eka , aku cerita sama dia tentang masalah ini . dia pun melihat dengan sangat panas , sengaja deh aku makin deket sama eka biar dia tambah cemburu .

Minggu pagi aku bangun , berharap deh ada sms dari dia , eh ternyata gak ada.ya udah deh aku siap-siap aja ke acara motivasi dari sekolah , aku kebagian yang pagi .pas nyampe disana , ternyata dia juga yang pagi . ya ampuuun , malees bget harus jumpa dia lagi .ddukny sederet lagi. Sesekali dia melihat kearah aku , pas ak ngeliat dia juga ngeliat .

Pas sorenya aku bangun tidur ada sms dari dia .langsung aja aku tanyakin.

“ngapa ko diamkan aku gitu?” tanyaku sedikit emosi

“maaf ya , aku gondok gak jelas kemaren. Maaf” jawabnya dengan bersalah

“iya tapi jangan gitu lagi ya” jawabku

“iya , waktu kita tak teguran ko main dengan eka ya? Tanyanya serius

“iya , abis aku bingung mau cerita dengan siapa” jawabku singkat

“iih , aku cemburu betul ni , jangan main dengan dia lagi ya .ada aku disini Dicky Andeska” ucapnya .

“iya ,ko juga jangan dekat dengan putri, aku cemburu” pintaku balik padanya.

Pas pagi itu rasanya aneeh bangeet baru baikan , kayak malu-malu gitu ,tapi bodo ah , sahabat sendiri aja . aku samperin aja deh langsung . udaah deh kondisi balik ke awal .

Pas jam kosong tuh aku duduk dengan eka , ceritain kalau kami udah baikan . udah gitu kami nyanyi sama-sama . eeh , pas aku liat kearah dicky dia malah pegang tangan putri , ya udah ak pura-pura gak liat aja lanjut nyanyi bareng ekaa .

Pas istirahat di jalan mau ke kantin dia narik tangan aku , udah gitu di hempas sambil ngomgong .

“ko tu cuma bisa diucapkan dengan lisan , tapi gak dilaksanakan dengan perbuatan” ucapnya marah langsung pergi ninggalin aku .

Aku masih bingung maksudnya apa coba . pas pulang dari kantin , gentian aku narik dia .

“ngapa ko ngomongn gitu tadi” tanyaku sedikit bingung ,maklumlah aku ni kan tulalit .

“ko tu , bilangnya gak main dengan dia lagi” jawabnya singkat.

“ko sendiri tadi sama dia di kelas” aku balik menyelahkannya

“kan ko dulu yang mulai tadi di kelas , makanya aku liat aja trus ad putri” jawabnya enteng

“iih , aku cemburuu.” Ucapku penuh arti

Perselisihan kami tak hanya sampai hari itu aja . sifat dia yang suka ngambek gak jelas itu udah terjadi brulang kali sampai detik ini . karna udah biasa jadi aku biasa aja .

Tapi yang anehnya ngambek yang sekarang ini beda . dia bilang di sekolah gak usah ngomong , ngomong seperlunya aja , kalau sms gak apa .aneh bangetkan .jadi di sekolah tu kami gak teguran , ya paling-paling ada kesempatan gitu barulah dia ganggu aku . tapi itu cuma 1 minggu aja , selama gak teguran sms kami lancar dan aku setiap hari mimpiin dia .

Sekarang udah balik kayak biasa , tapi aku cemburu dan sedih . memang kami sekarang teguran tapi kenapa kami tidak pernah komunikasi lagi ?

Waktu ujian terakhir jam istirahat aku periksa inbox dia , dia periksa inbox aku . dan ternyata ada sms dri adek kelas , iiii , mesra banget sih mereka .
“ciee , sama amania wak” ledekku , padahal dalam hati cemburu berat

“ciee , cemburu ya” balik meledek ku

“payah e” jawabku kesal

“alah ngaku aja” jawabny maksa buatku ngaku

“enggak!” jawabku tegas .

Yah ! aku gak tau , kenapa akhir-akhir ini aku jadi aneh gitu sama dia . kalau gak smsn tu lain banget rasanya , kalau dia smsn dengan cewek lain apalagi , langsung panas ni hati .

Di bilang cemburu sih iya , banget malah . tapi dia tu hobby banget bikin aku cemburu , cemburu aku ada artinya , aku cuma gak mau kehilangan sahabat kayak dia . dia gak pernah tau itu .

Memang dulu aku sempat pernah suka sama dia , tapi aku tau kalau kami itu Cuma sahabat . memang sih sekarang rasa itu udah bertambah . tapi aku coba berusaha buat pendam itu semua , karna kami Cuma sahabat , gak lebih .



Dear my bestfriend DA

Ko gak akan pernah tau apa yang aku rasain , ko gak akan pernah tau perasaan aku gimana .

Dulu memang aku pernah suka sama ko , tapi aku sadar kalau kita Cuma sahabat gak lebih . dan memang aku nyaman kita bersahabat kayak gini .

Aku selalu berdoa , supaya persahabatan kita tu sampai nanti , selamanya bahkan .aku sayang ko , sama yang kayak ko bilang , bahkan sayang aku ke ko lebih dari sayang ko ke aku .

Waktu kita di SMA tinggal 3 bulan lagi , itu bukan waktu yang lama . sebentar lagi kita pisah , ko kemana aku kemana . Cuma allah yang tau kita bisa ketemu lagi atau tidak . tapi aku selalu berdoa supaya kita bisa ketemu lagi suatu saat nanti .

Aku yakin gak akan ada yang bisa ganti posisi ko jadi sahabat aku walaupun posisi aku bisa diganti dengan siapa aja .

1 hal yang harus ko tau kalau aku cemburu ko dengan siapa aja , aku selalu sayang sama ko , rasa yang dulu hanya o,1% sekarang berubah jadi 75%

Waktu kita gak lama lagi .aku cuma mau ngabisin masa SMA dengan teman-teman aku dan sahabat aku , itu ko !

Aku pergi nanti untuk selamanya , aku gak akan pulang lagi . Cuma waktu yang bisa pertemukan kita lagi .

Aku sayang ko , ko sahabat aku paling baik walaupun kadang-kadang ko tu nyebeliin .

Aku kangen ko yang dulu , untuk 3 bulan lagi aku mohon sifat ngambek gak jelas itu hilang ya L

Kalu gak ada ko , aku mau cerita dengan siapa lagi ?

Gak peduli lh gak ada pacar yang penting aku punya sahabat kayak ko .

Kalau kita udah jauh nanti jangan lupain aku ya , aku syang ko kawan :*:*



Persahabatan itu lebih dari segalanya . dan ingatlah gak akan ada satu orangpun yang dapat menggantikan posisimu . semoga kita LULUS dan masuk UNIV yg kita inginkan . semoga allah mempertemukan kita lagi .

Moga postingan  Cerpen Tahun Baru 2012  ini bermanfaat untuk anda aneka remaja Mengucapkan selamat tahun baru 2012 ya.. moga dapat dech sms ucapan selamat tahun baru 2012 dari cowok , pacar kamu juga temen temen semua

Jumat, 24 Februari 2012

CERPEN , DILEMA


DILEMA
(Awal Sebuah Pilihan : Sahabat dan Cinta)
Cerpen _Aiira

Aku masih terpaku menatap lekat-lekat sosoknya.Seorang gadis yang sebaya denganku, yang telah cukup lama menjadi teman akrabku.Aku pun hampir tidak mengingat, bagaimana kami bisa saling mengenal dan berlanjut menjadi seorang sahabat.Ya, sahabat. Sesuatu yang spesial bagi tidak sedikit orang.Sosok yang selalu ada saat kau jatuh hingga kau telah berada di atas angin.

Keisya.Merupakan panggilan akrab untuknya.Dikatakan dewasa, dia sungguh kekanak-kanakan.Disebut penyabar, tidak selalu seperti itu keadaannya. Namun entah karena hal apa aku sanggup berlama-lama di dekatnya. Waktu satu jam bukan lagi waktu yang cukup memuaskan bagi kami untuk saling bercerita dan berkeluh kesah. Mulai dari segala hal yang sedih, aneh, lucu, keren menurut versi kami, dan banyak lagi hal-hal tak penting yang kami bahas.
‘Sahabat Selamanya’

Sekiranya itu adalah ikrar setia kami untuk terus bersama hingga tangan Tuhanlah yang memisahkan. Jika kalian pernah membaca sebuah novel Firefly Lane karya Kristin Hannah, kalian pasti akan menemukan dua tokoh yang telah membuktikan kesetiaan janji mereka. Janji untuk bersahabat selamanya.Terlalu berlebihan memang, jika kami harus disejajarkan dengan kedua tokoh istimewa itu, Tully dan Kate. Namun, dalam segala situasi yang penuh dengan kecambuk akan kelabilan ego kami masing-masing, kami mencoba untuk bisa memenuhi janji kami sabagai sahabat selamanya.

Hingga semua itu berubah keadaannya.Terjadi begitu saja.Dan berhasil menghancurkan semuanya dalam sekejap.Tepat di pertengahan Oktober lalu, semua itu kepahitan berawal dan sebuah hubungan yang erat pun berakhir.Penghianatan.Sebuah kata kunci yang terasa pantas untuk disandang.
*******

“Sya,…….”. tiba-tibaKeisya datang padaku dengan berderai air mata. Seperti biasa, ia meletakkan kepalanya di pundakku.
“Ada apa, Kei? Cerita aja, nggak usah kaya begini lah”.
“Kak,….”. ucapnya menggantung. Tampak keraguan darinya untuk bicara.
“Iya, Dik… Ada apa?”
“Dia jahat, Kak… -hikshikshiks L-“, ucapnya terisak.
“Maksudmu?”
“Farhan mutusin aku, Kak”.
“Apa?Bagaimana bisa?Awas aja kalau aku ketemu ama dia. Huh!” seruku geram penuh umpat pada Farhan.“Memang apa yang sudah terjadi?Kalian bertengkar?”
Keisya hanya terdiam.Isaknya terdengar makin dalam.Makin perih menusuk relung batinnya.“Baiklah, kalau kamu nggak bisa cerita nggak apa-apa.Tapi ingat ya, aku selalu ada buat kamu”, ucapku berusaha menghiburnya.
“…. J….”. ia hanya tersenyum dan menatapku mendalam. “Terimakasih Rasya. Terimakasih”, ucapnya diiringi dengan jatuhnya bulir-bulir bening pada pipinya.
“Yang penting kau bahagia, Dik. Bukankah kita akan menjadi sahabat selamanya?”.
“Untuk sahabat sejati selamanya”, sahut Keisya sambil mengaitkan kelingkingnya pada kelingkingku.Tampak sebuah senyum tersungging di wajahnya.Ia tampak manis, meski aku tahu ia tengah membohongi dirinya sendiri dengan senyumnya yang penuh kegamangan saat ini.
******

Hari-hari muram buat Keisya telah berlalu.Dapat terlihat lagi auranya yang periang dan senyumnya yang menggoda. Dengan centilnya ia menghidupkan suasana di kelas kami. Mungkin, itu salah satu alasan mengapa aku rela menjadi sahabatnya.
“Wah, lagi seneng ni ye…”, godaku padanya.
“Maksud kak Rasya apa sih?Dateng-dateng langsung nyeplos begitu? Plis deh,…”, timpalnya padaku.
“Sepertinya ada sesuatu nih. Makanya si putri ini lagi doyan nyegar-nyegir nggak jelas”.
“Emang menurut kakak begitu ya?” ujarnya tanpa menatap aku, sambil nyegar-nyegir tak jelas.
“Inggih, Sayang…. Emang ada apa toh? Cerita dong”.
“Rasya tahu Bramasta kan?”
“Emang kenapa?”
“Orangnya perhatian ya, Kak. Baaaiiikkk banget”

Aku sangat terkejut akan apa yang baru saja dikatakan Keisya. Entah aku merasa ada sesuatu mengganjal di hatiku.Ada serpihan rasa tak rela yang menghujam dada.Seketika lidahku kelu. Tanpa ingin membuatnya kecewa akan responku yang tidak cukup baik, ku lemparkan senyum padanya. Berharap ia tak menyadari akan adanya kegamangan dalam hatiku.
*****

Mulai saat itu, Keisya tak lepas dari topic yang membahas tentang Bramasta.Anak laki-laki di sekolah kami yang bisa dikatakan tenar. Berperawakan tinggi, putih, bermata sedang, dan jika tersenyum maka akan timbul sebuah cekungan di sudut pipinya. Dan semenjak hari itu pula, waktu malamku terasa panjang dan melelahkan.Bramasta adalah kawanku saat kelas 4 SD dahulu. Kedua orangtua kami pun sudah cukup mengenal.Tak jarang Ibu mengundang mereka –Bramasta dan keluarga- dalam setiap acara penting keluarga kami, begitu juga sebaliknya.Kami tergolong dekat, walau kini pada nyatanya hubungan kami semakin merenggang. Bahkan jika aku menceritakan hal ini pada teman-teman di sekolah ku kini, sungguh mereka akan benar-benar tidak percaya. Mustahil untuk dapat dipercaya oleh mereka.Tak apalah, sempat mengenal bahkan mejadi kawannya pun jadi hal istimewa buatku.Dan semua yang telah terjadi  antara aku dan Bramasta seakan sudah cukup memberikan alasan untuk menumbuhkan rasa kagum dari ku untuknya.

Dengan terus melajunya sang waktu, rasa kagum itu kian menjalar, merambat dan bersarang ke dalam ruang-ruang kosong di benakku.Semakin lama, semua rasa itu kian mendalam. Dan kini, . . . .tepat dihadapanku. Seorang gadis yang telah kuanggap bak saudara, menceritakan sosok Bramasta dengan binar-binar kekaguman yang tampak di matanya.
“Apa kamu mengagumi, Bramasta?” tanyaku tiba-tiba pada Keisya.Semua terasa terlontar begitu saja dari mulutku.

Keisya diam., tersenyum dan melempar pandangannya pada goresan putih yang menggantung di langit biru yang gagah. “Menurutmu Rasya? Apakah seperti itu adanya?” ucapnya kemudian. Tergores sebuah senyum dari bibirnya.
*****

Entah untuk yang ke-berapa kalinya aku membolak-balikkan tubuhku di atas ranjang.Nyanyian jangkrik terdengar makin lantang, seiring dengan terhentinya suara riuh manusia yang rutin terdengar di pagi hari. Dari balik jendela, cahaya bulan telah memberi warna perak pada pepohonan di luar sana. Lambaian tirai-tirai di kamarku seakan mengabarkan bahwa sang angin darat telah menjaga nelayan-nelayan yang tengah memulai harinya demi sepincuk nasi. Ku lempar pandangan pada jam dinding yang menggantung di seberang ranjangku. Pukul 02.00.Hingga saat ini kedua mataku enggan terpejam, walau perihnya mata ku rasa sudah.Kata-kata Keisya pagi tadi masih terngiang jelas dalam anganku.“Ah, aku tak boleh seperti ini. Pun tak ada guna aku mementingkan hatiku sendiri.Toh, Bramasta tak memiliki perasaan apapun padaku. Bukankah cinta tak harus memiliki?” batinku lirih.Cinta.Inikah rasanya?Sesuatu yang selalu terdengar indah, magis, dan luar biasa, telah menjangkit diriku.Sesuatu yang selalu dibuat istimewa oleh para pengarang maupun penyair. Tapi,… mengapa semua seperti ini? Terasa sakit, berat, dan memilukan.Makin meracuni alam pikiranku yang kalut.Sungguh buruk kenyataan cinta yang sesungguhnya.Namun semua kembali pada satu pertanyaan singkat, “Pantaskah aku merasakan cinta saat ini?”
*****

“Sya,…Rasya!” panggil Nadine tergopoh-gopoh.
“Ada apa?Santai aja lagi, nggak usah lebay sampai mengos-mengos begitu”.Ucapku sekenanya.
“hosh.. hosh..  Itu…hosh hosh… emmm, i..ttu lho…” ucapnya tak jelas sembari mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
“Hadeh, ngomong apa to, Mbak yu… atur napas dulu dah, tenang”.
Dalam waktu sepersekian detik, Nadine kembali bernapas normal. “Kei,….Kei,.. Kei, Rasya..”
“Kei? Ada apa? Kenapa Keisya?” responku panik seketika.
“Dia lagi berantem di kantin. Anak-anak malah pada nyorakin mereka, ngomporin gitu-….”
“Oke, makasih”.Responku singkat dan segera berlari ke arah kantin.Walau aku tahu bahwa Nadine belum selesai bicara tadi. Aku harap ia tidak marah dan bisa mengerti.
Gerombolan anak laki-laki dan perempuan riuh, membentuk formasi lingkaran tak beraturan. Mereka meneriakkan nama Kei dan Teressa. Segera ku berlari menuju kerumunan dan beradu badan dengan yang lainnya agar aku dapat menempati posisi terdepan. Begitu sampai di barisan depan, dapat ku lihat Kei dan Tere yang saling menjambak. Wajah mereka berdua merah padam, sama-sama terbakar emosi menggebu.Tak membuang waktu aku menuju ke tengah-tengah berharap dapat melerainya.
“Hei, hentikan!Hentikan semua ini!” teriakku cukup keras.Sialnya suaraku kalah terdengar daripada teriakan masal yang tengah mendukung jagoan mereka yang tengah bertanding.
‘Bruak!!!’

Aku jatuh tersungkur saat aku berusaha menengahi mereka berdua. Tangan Tere mendorong tubuhku keras secara tidak sengaja –mungkin memang tak sengaja, aku tak tahu-. Keisya menatapku yang merintih lekat-lekat.Ia melepaskan diri dari rengkuhan tangan Tere, dan bergegas menghampiriku. Masih dengan wajah yang merah padam, Tere mentap aku dan Keisya bergantian.Tatapan yang seakan bermakna, aku-akan-memberikan-pelajaran-yang-lebih-dari-ini-anak-bau-kencur. Ia berlalu dengan senyum puas karena merasa telah menang atas Keisya.
“Kamu nggak apa-apa, Rasya?”
“Yang seharusnya Tanya itu aku, Bodoh. Kamu nggak apa-apa?”
“Sial, semua gara-gara cewek jelek dan bawel itu.Awas aja dia. Berani banget dia macem-macem sama kamu, Sya”, umpatnya kesal bukan main.
Kei berdiri dan berjalan menghampiri Tere yang melangkah belum jauh dari TKP sebelumya. “Tere! “ teriak Kei. Tere berbalik, “Apa lagi anak bawang?”
‘Plak!’

Pukulan keras melayang dari tangan Kei ke pipi Tere. Saat tangan Tere hampir meyentuh permukaan pipi Kei, sebuah tangan menghentikannya.
“Bramasta”, ucap Tere dan Kei hampir bersamaan.
“Udahlah, kalian jangan kayak anak kecil sepeti ini.Apa kalian nggak mikir kalau perbuatan kalian mencoreng nama baik kalian sendiri?” ujar Bramasta sok bijak.
Tanpa berkata sepatah katapun, Tere berlalu.Terbesit kilatan amarah yang kian berkobar di matanya.Bramasta menatap wajah Keisya teliti.“Panampilanmu acak adul banget.Sumpah. Kamu juga luka, di obtain ke UKS gih,…….”

Bulir-bulir bening mengalir mulus di pipiku.Aku tak kuasa lagi untuk menahan genangannya. Hatiku benar-benar terasa terguncang melihat apa yang terjadi pada Rasta dan Kei. Mereka kini tengah berdiri di hadapanku, berjarak sangat dekat. Tampak rasa cemas dari air muka Rasta. Aku berlari.Menjauh dari pemandangan yang memekakkan luka di hatiku.Aku berlari megikuti kemana pun langkah kaki terarah.
*****

“Kak Rasya, tunggu..”, Kei memanggilku yang sedari kemarin berusaha menghindrinya. “Sya, kamu marah sama aku?Apa karena aku berantem waktu itu ya? Aku minta maaf”.
Ku tatap mata bulatnya mendalam. Mata yang membuat setiap orang akan menaruh simpati padanya. “Iya aku maafin kok.Lain kali jangan kamu ulangi, inget orangtuamu nggak pernah ngajarin kamu untuk berantem kaya ayam bodoh.Apalagi ini Cuma hal sepele”.
“Maaf, Sya. Aku….” Air mata menggenang di kedua pelupuk matanya, selang beberapa detik bulir-bulir bening itu tumpah ruah. “Maafkan aku, Sya,,,”
Ku raih tubuhnya dan ku dekap ia. Aku beruaha untuk menentramkan hatinya.“Iya, kei aku maafin kamu. Dan aku juga minta maaf ya, Kei….”
Kei menarik dirinya dari tubuhku.Ia menatapku, “Maaf? Untuk apa?”
“Untuk,….segalanya, Kei. Segalanya”, jawabku mnggantung.Aku terus terhanyut dalam tatapan matanya. “Kei maafkan aku yang belum seutuhnya rela melepaskan perasaanku pada Rasta untukmu”, batnku dalam hati.
“Oke, daripada larut dalam kesedihan yang super nggak jelas gimana kalau nanti kita hang out. Makan bakso atau mi ayam?” tawar Kei padaku, sambil menyeka jalur yang membekas atas air matanya.
“Aku kenyang. Mungkin lain kali. Aku minta maaf”.
“Sayang sekali. Tapi, tak apalah”
|”Emm, kalau boleh tahu ada masalah apa, antara kamu sama Tere?”
“O, jadi gini ceritanya-..”.
*****

Matahari kian meninggi.Panasnya sungguh menyegat, serasa membakar hangat ubun-ubun kepala.Ku kayuh sepeda menuju perpustakaan umum.Dalam kondisi kalut seperti ini, ku luangkan sedikit waktu untuk sekedar mambaca buku, berharap semua masalah dapat terlupakan walau hanya sekejap.
Begitu sampai di dalam. Ribuan buku yang tertata rapi dalam rak-rak yang saling berjajar. Ku perintahkan langkah kakiku menuju kumpulan buku yang berlabel “Sastra dan Karya Fiksi”.
“Rasya!” tiba-tiba sebuah suara yang tak asing bagiku terdengar keras memanggil.
“Hei, Kei! Tumben ke sini.Sama…?” belum genap aku menyelesaikan kalimat tanyaku, sosok Rasta menyusul di belakang Kei.“Sepertinya aku sudah tahu jawaban atas pertanyaanku sendiri”. ujarku kemudian.
“Ku akui kau memang cerdas, Rasya”.
“Hei, Rasya! Udah lama banget nggak ketemu.Ngilang kemana aja kamu?”Rasta tiba-tiba datang dan menyapa ku.
“Bukankah yang selama ini sering ngilang itu kamu ya?Secara anak tenar gitu?”
“Bisa aja kamu, Sya.Kamu belum berubah ya.Masih pinter ngeles kaya dulu”.
“Oh ya?” jawabku singkat.“Aku emang nggak berubah, Rasta.Begitu juga perasaanku ke kamu. Mungkin selamanya akan tetap sama”, benakku kemudian. Jujur saja, seketika jantungku berdebar kencang, aliran darahku mengalir begitu cepat.Tubuhku gemetar.Tangan dan kakiku terasa kesemutan.
“Ehem..ehem… ada yang dikacangin di sini nih”, Kei berkomentar atas suasana yang terjdi.
“Wah, ada yang marah ni ye”, godaku.
“Oke.Kei, bisa kamu cerita gimana kamu bisa kenal dan bersahabat sama cewe bawel, cerewet, dan cengeng kayak dia?”
“Oh, gitu? Awas kamu ya”.
“Kamu ngancem ceritanya nih?” goda Rasta padaku.

Mulai detik itu, ku rasakan kembali kedekatanku dengan Rasta. Dan dapat ditebak, aku semakin sukar menghapusnya dari hatiku. Seakan ada harapan untukku. Jujur saja, aku merasa dia sangat perhatian kepadaku. Aku nyaman berada di dekatnya. Aku sering menghindari kontak mata dengannya, aku tak kuasa menatapnya lama. Tak jarang Rasta tersenyum geli dengan tingkahku yang serba salah. Namun, kami tidak hanya berdua saja dalam melewati hari. Ada Keisya. Sahabatku yang juga saingan hatiku akan Rasta.*****
‘Drrrrtt,,,ddrrrrtt,,’

Handphone ku bergetar.Ada sebuah pesan dari Rasta. Jujur, aku telah menantikannya sejak semalam. “. . . Happy Birthday, Friend. Moga tambah suskses aja dan selalu berada dalam naunagn rahmat-Nya.Amiin. O ya, Sya hari ini aku mau ngundang kamu untuk makan bareng keluarga aku.Toh, udah lama juga kita nggak makan bareng.Jangan lupa kenakan gaun ungu itu. Aku harap kau menyukainya. . . .”, sms panjang lebar dari Rasta membuatku gembira dan bingung. Gembira tas undangannya dan bingung perkara gaun ungu yang ia sebutkan dalam pesannya. Gaun apa yang ia maksudkan?
“Kei, kamu nerima titipan nggak? Kiriman pos gitu, ada nggak?” tanyaku pada Keisya yang kini tinggal seatap denganku. Kini lagi-lagi kami kuliah di tempat yang sama. Dan ujung-ujungnya, kami memutuskan untuk tinggal di rumah kos satu atap.
“Hah, ng..ng kiriman… tt .. ttittipan? Ng..ng.. ng… aku nggak tahu tuh. Emang kenapa?” jawabnya dengan air muka yang aneh seketika.
“Nggak, aku butuh banget barang itu.Ada hal penting untukku.Terimakasih”.
“Yap, aku pasti akan memberimu kabar seputar kiriman yang datang, Rasya. Itu pasti.”
“Aku percaya padamu, Kei”.
“Ngng, Rasya,…”
“Iya, Kei?”
“Selamat ulang tahunJ”
“Terimakasih, Sobat.  Kau yang terbaik”.
*****

Hatiku masih terbalut gelisah dan bersalah. Gaun pemberian Rasta tak berjejak, hilang. Aku pun tak menghadiri undangan makan malam dari keluarga Rasta. Aku tak tahu harus berkata apa pada mereka perkara gaun yang hilang itu. Aku malu. Rasta maafkan aku.
‘Bruak!!’
Sebuah kotak bersampul hitam jatuh dari lokerku. Penasaran, ku buka bungkusan kotak itu.Dan ku lihat isinya, sebuah kaset rekaman dan sebuah buku harian yang persis dengan milik Keisya. Apa maksudnya ini. Tak betah didekap penasaran, ku setel rekaman itu. Dan ternyata……
******

“Apa maksudmu melakukan ini semua, Keisya? Apa salahku padamu?” makiku pad Keisya setibanya aku di rumah. Awalnya aku tak percaya akan apa yang ku lihat dalam rekaman itu, tapi pernyataan Keisya pada buku hariannya cukup menjadi bukti.

. . . Tuhan, sungguh aku tak rela ini semua terjadi.Ternyata selama ini Kak Rasta lebih menaruh kagum pada Rasya.Bukan padaku! Tadi pagi, aku menemukan sebuah bingkisan bersampul ungu di depan pintu. Dibawa penasaran, kemudin ku buka isinya. Ternyata itu adalah kado ulang tahun dari Rasta untuk Rasya .Sungguh hati ini terbakar. Hatiku berkecamuk. Haruskah aku utamakan sahabatku atau perasaanku? Tak berselang lama, ada seorang gadis kecil melintas di hadapanku. Ku panggil ia, dan ku berikan gaun ungu itu padanya. Aku berkata padanya, bahwa ia harus memakai gaun ini jika tiba waktunya nanti. Ia tersenyum bahagia dan berlalu. Kembali aku menitihkan air mata. Rasya, maafkan aku.Sungguh aku tak kuasa menerima semua ini..  Rabu, 20 Oktober. . . .
“Rasya, aku… ak akk,..akkuuuu….”
“Sudah cukup, Kei.Aku lelah denganmu. Benar apa yang Tere katakan padaku. Kau memang tak punya hati. Kamu lebih mementingkan urusan dan kebutuhanmu sendiri.”.
“Tere? Apa yang telah ia katakan?”
“Tak penting. Yang terpenting adalah, aku telah menyadari bahwa kau adalah seorang penghianat besar. Aku kecewa padamu”.
“Aku bukan penghianat. Aku sahabatmu, Sya’.
“Sahabat? Tidak lagi untuk sekarang dan seterusnya”. Usai bicara aku lekas berlalu.
“Rasya,…”

Langkahku terhenti. Hatiku berontak untuk mencabut semua yang telah ku ucapkan. Namun, emosiku tak dapat teredam lagi. “Oh ya, Kei. Mulai siang ini aku tidak lagi seatap denganmu. Semoga kau segera tenang atas kepergianku. Dan,… terimakasih”, ucapku tanpa berbalik.
******

‘drrrrtttt…. Dddrrrtttt…’
Handphoneku bergetar untuk yang ke-sekian kalinya. Terpampang nama Keisya di layar handphoneku. Sudah hampir dua minggu aku tak menjawab sms atau menerima panggilan darinya.Hatiku masih nyeri saat mengingat semuanya. Aku juga menghindari Rasta. Jika Keisya memang benar-benar menginginkannya, akan ku relakan dia. Mungkin Rasta benar-benar bukan untukku.

Ku tatap lekat-lekat  foto yang tengah ke dekap. Bergamabar 3 remaja, satu laki-laki dan dua wanita. Mereka tersenyum riang menatap kamera.Di bawahnya tertera tulisan SAHABAT SEJATI SELAMANYA.
Air mata mengucur deras.Menusuk luka hati yang seakan terlanjur bernanah.Luka hati yang tak pernah aku inginkan.Luka hati yang telah mengorbankan sesuatu berharaga dalam duniaku, persahabatanku..

Baca Juga
Cerpen Remaja yang lainnya dan saya Ucapkn Banyak Terimakasih

DILEMA
(Awal Sebuah Pilihan : Sahabat dan Cinta)
Cerpen _Aiira

Aku masih terpaku menatap lekat-lekat sosoknya.Seorang gadis yang sebaya denganku, yang telah cukup lama menjadi teman akrabku.Aku pun hampir tidak mengingat, bagaimana kami bisa saling mengenal dan berlanjut menjadi seorang sahabat.Ya, sahabat. Sesuatu yang spesial bagi tidak sedikit orang.Sosok yang selalu ada saat kau jatuh hingga kau telah berada di atas angin.

Keisya.Merupakan panggilan akrab untuknya.Dikatakan dewasa, dia sungguh kekanak-kanakan.Disebut penyabar, tidak selalu seperti itu keadaannya. Namun entah karena hal apa aku sanggup berlama-lama di dekatnya. Waktu satu jam bukan lagi waktu yang cukup memuaskan bagi kami untuk saling bercerita dan berkeluh kesah. Mulai dari segala hal yang sedih, aneh, lucu, keren menurut versi kami, dan banyak lagi hal-hal tak penting yang kami bahas.
‘Sahabat Selamanya’

Sekiranya itu adalah ikrar setia kami untuk terus bersama hingga tangan Tuhanlah yang memisahkan. Jika kalian pernah membaca sebuah novel Firefly Lane karya Kristin Hannah, kalian pasti akan menemukan dua tokoh yang telah membuktikan kesetiaan janji mereka. Janji untuk bersahabat selamanya.Terlalu berlebihan memang, jika kami harus disejajarkan dengan kedua tokoh istimewa itu, Tully dan Kate. Namun, dalam segala situasi yang penuh dengan kecambuk akan kelabilan ego kami masing-masing, kami mencoba untuk bisa memenuhi janji kami sabagai sahabat selamanya.

Hingga semua itu berubah keadaannya.Terjadi begitu saja.Dan berhasil menghancurkan semuanya dalam sekejap.Tepat di pertengahan Oktober lalu, semua itu kepahitan berawal dan sebuah hubungan yang erat pun berakhir.Penghianatan.Sebuah kata kunci yang terasa pantas untuk disandang.
*******

“Sya,…….”. tiba-tibaKeisya datang padaku dengan berderai air mata. Seperti biasa, ia meletakkan kepalanya di pundakku.
“Ada apa, Kei? Cerita aja, nggak usah kaya begini lah”.
“Kak,….”. ucapnya menggantung. Tampak keraguan darinya untuk bicara.
“Iya, Dik… Ada apa?”
“Dia jahat, Kak… -hikshikshiks L-“, ucapnya terisak.
“Maksudmu?”
“Farhan mutusin aku, Kak”.
“Apa?Bagaimana bisa?Awas aja kalau aku ketemu ama dia. Huh!” seruku geram penuh umpat pada Farhan.“Memang apa yang sudah terjadi?Kalian bertengkar?”
Keisya hanya terdiam.Isaknya terdengar makin dalam.Makin perih menusuk relung batinnya.“Baiklah, kalau kamu nggak bisa cerita nggak apa-apa.Tapi ingat ya, aku selalu ada buat kamu”, ucapku berusaha menghiburnya.
“…. J….”. ia hanya tersenyum dan menatapku mendalam. “Terimakasih Rasya. Terimakasih”, ucapnya diiringi dengan jatuhnya bulir-bulir bening pada pipinya.
“Yang penting kau bahagia, Dik. Bukankah kita akan menjadi sahabat selamanya?”.
“Untuk sahabat sejati selamanya”, sahut Keisya sambil mengaitkan kelingkingnya pada kelingkingku.Tampak sebuah senyum tersungging di wajahnya.Ia tampak manis, meski aku tahu ia tengah membohongi dirinya sendiri dengan senyumnya yang penuh kegamangan saat ini.
******

Hari-hari muram buat Keisya telah berlalu.Dapat terlihat lagi auranya yang periang dan senyumnya yang menggoda. Dengan centilnya ia menghidupkan suasana di kelas kami. Mungkin, itu salah satu alasan mengapa aku rela menjadi sahabatnya.
“Wah, lagi seneng ni ye…”, godaku padanya.
“Maksud kak Rasya apa sih?Dateng-dateng langsung nyeplos begitu? Plis deh,…”, timpalnya padaku.
“Sepertinya ada sesuatu nih. Makanya si putri ini lagi doyan nyegar-nyegir nggak jelas”.
“Emang menurut kakak begitu ya?” ujarnya tanpa menatap aku, sambil nyegar-nyegir tak jelas.
“Inggih, Sayang…. Emang ada apa toh? Cerita dong”.
“Rasya tahu Bramasta kan?”
“Emang kenapa?”
“Orangnya perhatian ya, Kak. Baaaiiikkk banget”

Aku sangat terkejut akan apa yang baru saja dikatakan Keisya. Entah aku merasa ada sesuatu mengganjal di hatiku.Ada serpihan rasa tak rela yang menghujam dada.Seketika lidahku kelu. Tanpa ingin membuatnya kecewa akan responku yang tidak cukup baik, ku lemparkan senyum padanya. Berharap ia tak menyadari akan adanya kegamangan dalam hatiku.
*****

Mulai saat itu, Keisya tak lepas dari topic yang membahas tentang Bramasta.Anak laki-laki di sekolah kami yang bisa dikatakan tenar. Berperawakan tinggi, putih, bermata sedang, dan jika tersenyum maka akan timbul sebuah cekungan di sudut pipinya. Dan semenjak hari itu pula, waktu malamku terasa panjang dan melelahkan.Bramasta adalah kawanku saat kelas 4 SD dahulu. Kedua orangtua kami pun sudah cukup mengenal.Tak jarang Ibu mengundang mereka –Bramasta dan keluarga- dalam setiap acara penting keluarga kami, begitu juga sebaliknya.Kami tergolong dekat, walau kini pada nyatanya hubungan kami semakin merenggang. Bahkan jika aku menceritakan hal ini pada teman-teman di sekolah ku kini, sungguh mereka akan benar-benar tidak percaya. Mustahil untuk dapat dipercaya oleh mereka.Tak apalah, sempat mengenal bahkan mejadi kawannya pun jadi hal istimewa buatku.Dan semua yang telah terjadi  antara aku dan Bramasta seakan sudah cukup memberikan alasan untuk menumbuhkan rasa kagum dari ku untuknya.

Dengan terus melajunya sang waktu, rasa kagum itu kian menjalar, merambat dan bersarang ke dalam ruang-ruang kosong di benakku.Semakin lama, semua rasa itu kian mendalam. Dan kini, . . . .tepat dihadapanku. Seorang gadis yang telah kuanggap bak saudara, menceritakan sosok Bramasta dengan binar-binar kekaguman yang tampak di matanya.
“Apa kamu mengagumi, Bramasta?” tanyaku tiba-tiba pada Keisya.Semua terasa terlontar begitu saja dari mulutku.

Keisya diam., tersenyum dan melempar pandangannya pada goresan putih yang menggantung di langit biru yang gagah. “Menurutmu Rasya? Apakah seperti itu adanya?” ucapnya kemudian. Tergores sebuah senyum dari bibirnya.
*****

Entah untuk yang ke-berapa kalinya aku membolak-balikkan tubuhku di atas ranjang.Nyanyian jangkrik terdengar makin lantang, seiring dengan terhentinya suara riuh manusia yang rutin terdengar di pagi hari. Dari balik jendela, cahaya bulan telah memberi warna perak pada pepohonan di luar sana. Lambaian tirai-tirai di kamarku seakan mengabarkan bahwa sang angin darat telah menjaga nelayan-nelayan yang tengah memulai harinya demi sepincuk nasi. Ku lempar pandangan pada jam dinding yang menggantung di seberang ranjangku. Pukul 02.00.Hingga saat ini kedua mataku enggan terpejam, walau perihnya mata ku rasa sudah.Kata-kata Keisya pagi tadi masih terngiang jelas dalam anganku.“Ah, aku tak boleh seperti ini. Pun tak ada guna aku mementingkan hatiku sendiri.Toh, Bramasta tak memiliki perasaan apapun padaku. Bukankah cinta tak harus memiliki?” batinku lirih.Cinta.Inikah rasanya?Sesuatu yang selalu terdengar indah, magis, dan luar biasa, telah menjangkit diriku.Sesuatu yang selalu dibuat istimewa oleh para pengarang maupun penyair. Tapi,… mengapa semua seperti ini? Terasa sakit, berat, dan memilukan.Makin meracuni alam pikiranku yang kalut.Sungguh buruk kenyataan cinta yang sesungguhnya.Namun semua kembali pada satu pertanyaan singkat, “Pantaskah aku merasakan cinta saat ini?”
*****

“Sya,…Rasya!” panggil Nadine tergopoh-gopoh.
“Ada apa?Santai aja lagi, nggak usah lebay sampai mengos-mengos begitu”.Ucapku sekenanya.
“hosh.. hosh..  Itu…hosh hosh… emmm, i..ttu lho…” ucapnya tak jelas sembari mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
“Hadeh, ngomong apa to, Mbak yu… atur napas dulu dah, tenang”.
Dalam waktu sepersekian detik, Nadine kembali bernapas normal. “Kei,….Kei,.. Kei, Rasya..”
“Kei? Ada apa? Kenapa Keisya?” responku panik seketika.
“Dia lagi berantem di kantin. Anak-anak malah pada nyorakin mereka, ngomporin gitu-….”
“Oke, makasih”.Responku singkat dan segera berlari ke arah kantin.Walau aku tahu bahwa Nadine belum selesai bicara tadi. Aku harap ia tidak marah dan bisa mengerti.
Gerombolan anak laki-laki dan perempuan riuh, membentuk formasi lingkaran tak beraturan. Mereka meneriakkan nama Kei dan Teressa. Segera ku berlari menuju kerumunan dan beradu badan dengan yang lainnya agar aku dapat menempati posisi terdepan. Begitu sampai di barisan depan, dapat ku lihat Kei dan Tere yang saling menjambak. Wajah mereka berdua merah padam, sama-sama terbakar emosi menggebu.Tak membuang waktu aku menuju ke tengah-tengah berharap dapat melerainya.
“Hei, hentikan!Hentikan semua ini!” teriakku cukup keras.Sialnya suaraku kalah terdengar daripada teriakan masal yang tengah mendukung jagoan mereka yang tengah bertanding.
‘Bruak!!!’

Aku jatuh tersungkur saat aku berusaha menengahi mereka berdua. Tangan Tere mendorong tubuhku keras secara tidak sengaja –mungkin memang tak sengaja, aku tak tahu-. Keisya menatapku yang merintih lekat-lekat.Ia melepaskan diri dari rengkuhan tangan Tere, dan bergegas menghampiriku. Masih dengan wajah yang merah padam, Tere mentap aku dan Keisya bergantian.Tatapan yang seakan bermakna, aku-akan-memberikan-pelajaran-yang-lebih-dari-ini-anak-bau-kencur. Ia berlalu dengan senyum puas karena merasa telah menang atas Keisya.
“Kamu nggak apa-apa, Rasya?”
“Yang seharusnya Tanya itu aku, Bodoh. Kamu nggak apa-apa?”
“Sial, semua gara-gara cewek jelek dan bawel itu.Awas aja dia. Berani banget dia macem-macem sama kamu, Sya”, umpatnya kesal bukan main.
Kei berdiri dan berjalan menghampiri Tere yang melangkah belum jauh dari TKP sebelumya. “Tere! “ teriak Kei. Tere berbalik, “Apa lagi anak bawang?”
‘Plak!’

Pukulan keras melayang dari tangan Kei ke pipi Tere. Saat tangan Tere hampir meyentuh permukaan pipi Kei, sebuah tangan menghentikannya.
“Bramasta”, ucap Tere dan Kei hampir bersamaan.
“Udahlah, kalian jangan kayak anak kecil sepeti ini.Apa kalian nggak mikir kalau perbuatan kalian mencoreng nama baik kalian sendiri?” ujar Bramasta sok bijak.
Tanpa berkata sepatah katapun, Tere berlalu.Terbesit kilatan amarah yang kian berkobar di matanya.Bramasta menatap wajah Keisya teliti.“Panampilanmu acak adul banget.Sumpah. Kamu juga luka, di obtain ke UKS gih,…….”

Bulir-bulir bening mengalir mulus di pipiku.Aku tak kuasa lagi untuk menahan genangannya. Hatiku benar-benar terasa terguncang melihat apa yang terjadi pada Rasta dan Kei. Mereka kini tengah berdiri di hadapanku, berjarak sangat dekat. Tampak rasa cemas dari air muka Rasta. Aku berlari.Menjauh dari pemandangan yang memekakkan luka di hatiku.Aku berlari megikuti kemana pun langkah kaki terarah.
*****

“Kak Rasya, tunggu..”, Kei memanggilku yang sedari kemarin berusaha menghindrinya. “Sya, kamu marah sama aku?Apa karena aku berantem waktu itu ya? Aku minta maaf”.
Ku tatap mata bulatnya mendalam. Mata yang membuat setiap orang akan menaruh simpati padanya. “Iya aku maafin kok.Lain kali jangan kamu ulangi, inget orangtuamu nggak pernah ngajarin kamu untuk berantem kaya ayam bodoh.Apalagi ini Cuma hal sepele”.
“Maaf, Sya. Aku….” Air mata menggenang di kedua pelupuk matanya, selang beberapa detik bulir-bulir bening itu tumpah ruah. “Maafkan aku, Sya,,,”
Ku raih tubuhnya dan ku dekap ia. Aku beruaha untuk menentramkan hatinya.“Iya, kei aku maafin kamu. Dan aku juga minta maaf ya, Kei….”
Kei menarik dirinya dari tubuhku.Ia menatapku, “Maaf? Untuk apa?”
“Untuk,….segalanya, Kei. Segalanya”, jawabku mnggantung.Aku terus terhanyut dalam tatapan matanya. “Kei maafkan aku yang belum seutuhnya rela melepaskan perasaanku pada Rasta untukmu”, batnku dalam hati.
“Oke, daripada larut dalam kesedihan yang super nggak jelas gimana kalau nanti kita hang out. Makan bakso atau mi ayam?” tawar Kei padaku, sambil menyeka jalur yang membekas atas air matanya.
“Aku kenyang. Mungkin lain kali. Aku minta maaf”.
“Sayang sekali. Tapi, tak apalah”
|”Emm, kalau boleh tahu ada masalah apa, antara kamu sama Tere?”
“O, jadi gini ceritanya-..”.
*****

Matahari kian meninggi.Panasnya sungguh menyegat, serasa membakar hangat ubun-ubun kepala.Ku kayuh sepeda menuju perpustakaan umum.Dalam kondisi kalut seperti ini, ku luangkan sedikit waktu untuk sekedar mambaca buku, berharap semua masalah dapat terlupakan walau hanya sekejap.
Begitu sampai di dalam. Ribuan buku yang tertata rapi dalam rak-rak yang saling berjajar. Ku perintahkan langkah kakiku menuju kumpulan buku yang berlabel “Sastra dan Karya Fiksi”.
“Rasya!” tiba-tiba sebuah suara yang tak asing bagiku terdengar keras memanggil.
“Hei, Kei! Tumben ke sini.Sama…?” belum genap aku menyelesaikan kalimat tanyaku, sosok Rasta menyusul di belakang Kei.“Sepertinya aku sudah tahu jawaban atas pertanyaanku sendiri”. ujarku kemudian.
“Ku akui kau memang cerdas, Rasya”.
“Hei, Rasya! Udah lama banget nggak ketemu.Ngilang kemana aja kamu?”Rasta tiba-tiba datang dan menyapa ku.
“Bukankah yang selama ini sering ngilang itu kamu ya?Secara anak tenar gitu?”
“Bisa aja kamu, Sya.Kamu belum berubah ya.Masih pinter ngeles kaya dulu”.
“Oh ya?” jawabku singkat.“Aku emang nggak berubah, Rasta.Begitu juga perasaanku ke kamu. Mungkin selamanya akan tetap sama”, benakku kemudian. Jujur saja, seketika jantungku berdebar kencang, aliran darahku mengalir begitu cepat.Tubuhku gemetar.Tangan dan kakiku terasa kesemutan.
“Ehem..ehem… ada yang dikacangin di sini nih”, Kei berkomentar atas suasana yang terjdi.
“Wah, ada yang marah ni ye”, godaku.
“Oke.Kei, bisa kamu cerita gimana kamu bisa kenal dan bersahabat sama cewe bawel, cerewet, dan cengeng kayak dia?”
“Oh, gitu? Awas kamu ya”.
“Kamu ngancem ceritanya nih?” goda Rasta padaku.

Mulai detik itu, ku rasakan kembali kedekatanku dengan Rasta. Dan dapat ditebak, aku semakin sukar menghapusnya dari hatiku. Seakan ada harapan untukku. Jujur saja, aku merasa dia sangat perhatian kepadaku. Aku nyaman berada di dekatnya. Aku sering menghindari kontak mata dengannya, aku tak kuasa menatapnya lama. Tak jarang Rasta tersenyum geli dengan tingkahku yang serba salah. Namun, kami tidak hanya berdua saja dalam melewati hari. Ada Keisya. Sahabatku yang juga saingan hatiku akan Rasta.*****
‘Drrrrtt,,,ddrrrrtt,,’

Handphone ku bergetar.Ada sebuah pesan dari Rasta. Jujur, aku telah menantikannya sejak semalam. “. . . Happy Birthday, Friend. Moga tambah suskses aja dan selalu berada dalam naunagn rahmat-Nya.Amiin. O ya, Sya hari ini aku mau ngundang kamu untuk makan bareng keluarga aku.Toh, udah lama juga kita nggak makan bareng.Jangan lupa kenakan gaun ungu itu. Aku harap kau menyukainya. . . .”, sms panjang lebar dari Rasta membuatku gembira dan bingung. Gembira tas undangannya dan bingung perkara gaun ungu yang ia sebutkan dalam pesannya. Gaun apa yang ia maksudkan?
“Kei, kamu nerima titipan nggak? Kiriman pos gitu, ada nggak?” tanyaku pada Keisya yang kini tinggal seatap denganku. Kini lagi-lagi kami kuliah di tempat yang sama. Dan ujung-ujungnya, kami memutuskan untuk tinggal di rumah kos satu atap.
“Hah, ng..ng kiriman… tt .. ttittipan? Ng..ng.. ng… aku nggak tahu tuh. Emang kenapa?” jawabnya dengan air muka yang aneh seketika.
“Nggak, aku butuh banget barang itu.Ada hal penting untukku.Terimakasih”.
“Yap, aku pasti akan memberimu kabar seputar kiriman yang datang, Rasya. Itu pasti.”
“Aku percaya padamu, Kei”.
“Ngng, Rasya,…”
“Iya, Kei?”
“Selamat ulang tahunJ”
“Terimakasih, Sobat.  Kau yang terbaik”.
*****

Hatiku masih terbalut gelisah dan bersalah. Gaun pemberian Rasta tak berjejak, hilang. Aku pun tak menghadiri undangan makan malam dari keluarga Rasta. Aku tak tahu harus berkata apa pada mereka perkara gaun yang hilang itu. Aku malu. Rasta maafkan aku.
‘Bruak!!’
Sebuah kotak bersampul hitam jatuh dari lokerku. Penasaran, ku buka bungkusan kotak itu.Dan ku lihat isinya, sebuah kaset rekaman dan sebuah buku harian yang persis dengan milik Keisya. Apa maksudnya ini. Tak betah didekap penasaran, ku setel rekaman itu. Dan ternyata……
******

“Apa maksudmu melakukan ini semua, Keisya? Apa salahku padamu?” makiku pad Keisya setibanya aku di rumah. Awalnya aku tak percaya akan apa yang ku lihat dalam rekaman itu, tapi pernyataan Keisya pada buku hariannya cukup menjadi bukti.

. . . Tuhan, sungguh aku tak rela ini semua terjadi.Ternyata selama ini Kak Rasta lebih menaruh kagum pada Rasya.Bukan padaku! Tadi pagi, aku menemukan sebuah bingkisan bersampul ungu di depan pintu. Dibawa penasaran, kemudin ku buka isinya. Ternyata itu adalah kado ulang tahun dari Rasta untuk Rasya .Sungguh hati ini terbakar. Hatiku berkecamuk. Haruskah aku utamakan sahabatku atau perasaanku? Tak berselang lama, ada seorang gadis kecil melintas di hadapanku. Ku panggil ia, dan ku berikan gaun ungu itu padanya. Aku berkata padanya, bahwa ia harus memakai gaun ini jika tiba waktunya nanti. Ia tersenyum bahagia dan berlalu. Kembali aku menitihkan air mata. Rasya, maafkan aku.Sungguh aku tak kuasa menerima semua ini..  Rabu, 20 Oktober. . . .
“Rasya, aku… ak akk,..akkuuuu….”
“Sudah cukup, Kei.Aku lelah denganmu. Benar apa yang Tere katakan padaku. Kau memang tak punya hati. Kamu lebih mementingkan urusan dan kebutuhanmu sendiri.”.
“Tere? Apa yang telah ia katakan?”
“Tak penting. Yang terpenting adalah, aku telah menyadari bahwa kau adalah seorang penghianat besar. Aku kecewa padamu”.
“Aku bukan penghianat. Aku sahabatmu, Sya’.
“Sahabat? Tidak lagi untuk sekarang dan seterusnya”. Usai bicara aku lekas berlalu.
“Rasya,…”

Langkahku terhenti. Hatiku berontak untuk mencabut semua yang telah ku ucapkan. Namun, emosiku tak dapat teredam lagi. “Oh ya, Kei. Mulai siang ini aku tidak lagi seatap denganmu. Semoga kau segera tenang atas kepergianku. Dan,… terimakasih”, ucapku tanpa berbalik.
******

‘drrrrtttt…. Dddrrrtttt…’
Handphoneku bergetar untuk yang ke-sekian kalinya. Terpampang nama Keisya di layar handphoneku. Sudah hampir dua minggu aku tak menjawab sms atau menerima panggilan darinya.Hatiku masih nyeri saat mengingat semuanya. Aku juga menghindari Rasta. Jika Keisya memang benar-benar menginginkannya, akan ku relakan dia. Mungkin Rasta benar-benar bukan untukku.

Ku tatap lekat-lekat  foto yang tengah ke dekap. Bergamabar 3 remaja, satu laki-laki dan dua wanita. Mereka tersenyum riang menatap kamera.Di bawahnya tertera tulisan SAHABAT SEJATI SELAMANYA.
Air mata mengucur deras.Menusuk luka hati yang seakan terlanjur bernanah.Luka hati yang tak pernah aku inginkan.Luka hati yang telah mengorbankan sesuatu berharaga dalam duniaku, persahabatanku..

Baca Juga
Cerpen Remaja yang lainnya dan saya Ucapkn Banyak Terimakasih